Guru professional sebagai komunikator dan fasilitator
Kata
"fasilitator" berasal dari bahasa Inggris dan diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia. Istilah “fasilitator” menyiratkan bahwa guru juga harus
berperan dalam kapasitas ini. Di hadapan siswanya, guru berkembang menjadi
jembatan yang kuat. Guru lebih banyak melakukan pembelajaran berbagi, atau apa
yang disebut sebagai belajar bersama, dalam peran ini. Ketika seorang guru
mengajarkan dasar-dasar suatu mata pelajaran, dia tidak akan mendalami
pelajarannya; sebaliknya, dia hanya akan menanyakan informasi kepada
murid-muridnya yang dia yakin sudah mereka ketahui. Basis data pengetahuan ini
akan bersatu membentuk kumpulan pengetahuan yang luar biasa.
A. Tanggung Jawab Guru
Diantara tanggung jawab guru adalah menciptakan suasana atau iklim proses pembelajaran yang dapat memotivasi siswa untuk senantiasa belajar dengan baik dan semangat. Wijaya menyebutkan beberapa tanggung jawab dari seorang guru, yaitu:
- Tanggung jawab moral adalah setiap guru harus memiliki kemampuan menghayati perilaku dan etika yang sesuai dengan moral Pancasila dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
- Tanggung jawab dalam bidang pendidikan di sekolah adalah setiap guru harus menguasai cara belajar-mengajar yang efektif, mampu membuat satuan pelajaran, mampu dan memahami kurikulum dengan baik, mampu mengajar dikelas, mampu menjadi model bagi siswa, mampu memberikan nasihat, menguasai teknik-teknik pemberian bimbingan dan layanan, mampu membuat dan melaksanakan evaluasi dan lain-lain.
- Tanggung jawab guru dalam bidang
kemasyarakatan adalah turut serta menyukseskan pembangunan dalam bidang
kemasyarakatan. Untuk itu
guru harus mampu membimbing, mengabdi dan melayani masyarakat.
Tanggung jawab guru dalam bidang keilmuan, yaitu guru selaku keilmuan bertanggung jawab dan turut serta memajukan ilmu, terutama ilmu yang telah menjadi spesialisasinya dengan melaksanakan penelitian dan pengembangan.Dengan demikian tugas dan tanggungjawab guru tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu. Dia tidak terikat oleh keterbatasan jam dan kelas untuk mendidik. Karena proses belajar tidak hanya dilakukan di sekolah namun dibutuhkan di lingkungan untuk membentuk karakter dan kepribadian siswa, atau sekurang-kurangnya dapat membentuk landasan yang berarti untuk bekal siswa selanjutnya. - Tanggung jawab guru dalam bidang keilmuan, yaitu guru selaku keilmuan bertanggung jawab dan turut serta memajukan ilmu, terutama ilmu yang telah menjadi spesialisasinya dengan melaksanakan penelitian dan pengembangan.
Dengan demikian tugas dan tanggungjawab guru tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu. Dia tidak terikat oleh keterbatasan jam dan kelas untuk mendidik. Karena proses belajar tidak hanya dilakukan di sekolah namun dibutuhkan di lingkungan untuk membentuk karakter dan kepribadian siswa, atau sekurang-kurangnya dapat membentuk landasan yang berarti untuk bekal siswa selanjutnya.
B.
Tugas dan Wewenang Guru
Guru
memiliki banyak tugas baik yang terikat oleh dinas maupun di luar dinas. Dalam
bentuk pengabdian apabila kita kelompokan terdapat tiga jenis guru yaitu tugas
dalam bidang profesi, kemanusiaan dan kemasyarakatan.
Guru merupakan profesi/jabatan atau pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus
sebagai guru. Jenis pekerjaan ini tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang
diluar bidang kependidikan walaupun kenyataannya masih dilakukan orang diluar
kependidikan. Itulah sebabnya jenis profesi ini paling mudah terkena
pencemaran.
1.
Tugas guru sebagai profesi meliputi:
a)
Mendidik, yaitu meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup.
b) Mengajar, yaitu meneruskan dan mengembangkan
ilmu pengetahuandan tehnologi
c) Melatih, yaitu mengembangkan
ketrampilan-ketrampilan pada siswa.
2. Tugas guru dalam bidang kemanusiaan
Tugas guru dalam bidang kemanusiaan di sekolah harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua. Ia harus mampu menarik simpati sehingga ia menjadi idola para siswanya. Pelajaran apapun yang ia berikan hendaknya dapat menjadi motivasi bagi siswanya dalam belajar. Bila seorang guru dalam penampilannya sudah tidak menarik, maka kegagalan pertamanya adalah ia tidak akan dapat menanamkan benih pengjaranya itu kepada para siswanya. Para siswanya akan enggan menghadapi guru yang tidak menarik. Pelajaran tidak dapat diserap dengan baik.
3.
Tugas guru dalam bidang kemasyarakatan
Masyarakat
menempatkan guru pada tempat yang lebih terhormat dilingkungannya karena dari
seorang guru diharapkan masyarakat dapat memperoleh ilmu pengetahuan. Ini
berarti bahwa guru brkewajiban mencerdaskan bangsa menuju pembentukan manusia
indonesia seutuhnya berdasarkan pancasila.[1]
C.
Teknik Komunikasi
Komunikasi
dalam bahasa Inggris adalah communication, berasal dari kata commonicatio atau
dari kata comunis yang berarti “sama” atau “sama maknanya”. Dengan kata lain
komunikasi memberi pengertian bersama dengan maksud mengubah pikiran, sikap,
perilaku, penerima dan melakukan yang diinginkan oleh komunikator. Komunikasi
berarti penyampaian informasi, gagasan, pikiran, perasaan, keahlian dari
komunikator kepada komunikan untuk mempengaruhi pikiran komunikan dan
mendapatkan tanggapan balik sebagai feedback bagi komunikator. Sehingga
komunikator dapat mengukur berhasil atau tidaknya pesan yang di sampaikan
kepada komunikan.
Komunikasi mendapatkan tempat strategis dalam dunia pendidikan. Pendidikan
adalah komunikasi dalam arti kata bahwa dalam proses tersebut terlibat dua
komponen yang terdiri dari guru sebagai komunikator dan siswa sebagai
komunikan. Tujuan pendidikan akan tercapai jika prosesnya komunikatif.
Pada umumnya pembelajaran berlangsung secara berencana di dalam kelas secara
tatap muka (face to face) dan kelompoknya relatif kecil. Meskipun komunikasi
antara siswa dan guru dalam ruang kelas itu termasuk komunikasi kelompok, guru
sewaktu-waktu bisa mengubahnya menjadi komunikasi antar personal. Terjadilah
komunikasi dua arah atau dialog dimana siswa menjadi komunikan dan komunikator.
Guru merupakan sumber utama dalam menentukan kesuksesan belajar siswa. Faham
atau tidaknya siswa tergantung bagaimana guru menjelaskan. Menarik atau
tidaknya pembelajaran juga tergantung guru dalam mendesain pembelajaran dan
mengkondisikan suasana.
Di dalam komunikasi pembelajaran guru mempunyai peran yang sangat penting di
dalam kelas yaitu peran mengoptimalkan kegiatan belajar. Ada tiga kemampuan
yang harus dimiliki guru agar peran tersebut terealisasi, yaitu kemampuan
merencanakan kegiatan, kemampuan melaksanakan kegiatan dan kemampuan mengadakan
komunikasi. Ketiga kemampuan ini disebut generic essensial. Ketiga kemampuan
ini sama pentingnya, karena setiap guru tidak hanya mampu merencanakan sesuai
rancangan, tetapi harus terampil melaksanakan kegiatan belajar dan terampil
menciptakan iklim yang komunikatif dalam kegiatan pembelajaran.
Iklim komunikatif yang baik dalam hubungan interpersonal antara guru dengan
guru, guru dengan siswa, dan siswa dengan siswa merupakan kondisi yang
memungkinkan berlangsungnya proses belajar mengajar yang efektif, karena setiap
personal diberi kesempatan untuk ikut serta dalam kegiatan di dalam kelas
sesuai dengan kemampuan masing-masing. Sehingga timbul situasi sosial dan
emosional yang menyenangkan pada tiap personal, baik guru maupun siswa dalam
melaksanakan tugas dan tanggung jawab masing-masing.
Dalam menciptakan iklim komunikatif guru hendaknya memperlakukan siswa sebagai
individu yang berbeda-beda, yang memerlukan pelayanan yang berbeda pula, karena
siswa mempunyai karakteristik yang unik, memiliki kemampuan yang berbeda, minat
yang berbeda, memerlukan kebebasan memilih yang sesuai dengan dirinya dan
merupakan pribadi yang aktif. Untuk itulah kemampuan berkomunikasi guru dalam
kegiatan pembelajaran sangat diperlukan.
Adapun usaha guru dalam membantu mengembangkan sikap positif pada siswa
misalnya dengan menekankan kelebihan-kelebihan siswa bukan kelemahannya,
menghindari kecenderungan untuk membandingkan siswa dengan siswa lain dan
pemberian insentif yang tepat atas keberhasilan yang diraih siswa. Kemampuan
guru untuk bersikap luwes dan terbuka dalam kegiatan pembelajaran bisa dengan
menunjukkan sikap terbuka terhadap pendapat siswa dan orang lain, sikap
responsif, simpatik, menunjukkan sikap ramah, penuh pengertian dan sabar.
Dengan terjalinnya keterbukaan, masing-masing pihak merasa bebas bertindak,
saling menjaga kejujuran dan saling berguna bagi pihak lain sehingga merasakan
adanya wahana tempat bertemunya kebutuhan mereka untuk dipenuhi secara
bersama-sama.
Kemampuan guru untuk tampil secara bergairah dan bersungguh-sungguh berkaitan
dengan penyampaian materi di kelas yang menampilkan kesan tentang penguasaan
materi yang menyenangkan. Karena sesuatu yang energik, antusias, dan
bersemangat memiliki relevansi dengan hasil belajar. Perilaku guru yang seperti
itu dalam proses belajar mengajar akan menjadi dinamis, mempertinggi komunikasi
antar guru dengan siswa, menarik perhatian siswa dan menolong penerimaan materi
pelajaran.
Kemampuan guru untuk mengelola interaksi siswa dalam kegiatan pembelajaran
berhubungan dengan komunikasi antara siswa, usaha guru dalam menangani
kesulitan siswa dan siswa yang mengganggu serta mempertahankan tingkah laku
siswa yang baik. Agar semua siswa dapat berpartisipasi dan berinteraksi secara
optimal, guru mengelola interaksi tidak hanya searah saja yaitu dari guru ke
siswa atau dua arah dari guru ke siswa dan sebaliknya, melainkan diupayakan
adanya interaksi multi arah yaitu dari guru ke siswa, dari siswa ke guru dan
dari siswa ke siswa. Jadi semua kemampuan guru di atas mengarah pada penciptaan
iklim komunikatif yang merupakan wahana atau sarana bagi tercapainya tujuan
pembelajaran yang optimal.
D.
Teknik Fasilitator
Dalam
melaksanakan tugas menjadi fasilitator, maka terdapat tiga teknik dasar yang
perlu dipelajari:
1. Pencairan suasana
Maksud pencairan suasana adalah agar suasana diskusi kelompok menjadi tenang,
nyaman, santai dan tidak tegang, gerah atau beku. Maka fasilitator harus
memperlihatkan raut wajah yang ramah dan banyak senyum, serta dalam memberikan
contoh atau celetukan yang lucu tetap dalam suasana terkendali.
2. Ceramah
Ceramah adalah penyampaian materi kepada peserta kelompok agar pesan dan kesan
yang benar dapat dipahami oleh peserta. Untuk memudahkan digunakan alat bantu
berupa buku, materi, papan tulis/alat tulis, waktu untuk ceramah disesuaikan
dengan banyaknya materi yang akan dibahas.
3. Permainan
Permainan adalah cara mudah bagi peserta kelompok untuk mengulang dan mengingat
kembali materi yang telah disampaikan agar kita yakin bahwa isi dari materi
telah dimengerti sepenuhknya oleh peserta kelompok.
Beberapa hal yang harus
diperhatikan seorang guru sebagai fasilitator:
1. Mendengarkan dan tidak mendominasi. Seorang
siswa merupakan pelaku utama dalam pembelajaran, maka sebagai fasilitator guru
harus memberi kesempatan agar siswa dapat aktif.
2. Bersikap sabar
3. Menghargai dan rendah hati. Guru berupaya
menghargai siswa dengan menunjukan minat yang sungguh-sungguh pada pengetahuan
dan pengalaman mereka.
4. Mau belajar. Seorang guru tidak akan dapat bekerja sama dengan siswa apabila
dia tidak ingin memahami atau belajar tentang mereka
5. Bersikap sederajat. Guru perlu mengembangkan
sikap sederajat agar bisa diterima sebagai teman atau mitra kerja oleh siswanya
6. Bersikap akrab dan melebur. Hubungan dengan
siswa sebaiknya dilakuakan dalam suasana akra. Bersifat dari hati ke hati
sehingga siswa tidak merasa kaku dan sungkan dalam berhubungan dengan guru.
7. Tidak berusaha menceramahi. Siswa memiliki
pengalaman, pendirian dan keyakinan sendiri. Oleh karena itu, guru tidak perlu
menunjukan diri sebagai orang yang serba tahu, tetapi berusaha untuk saling
berbagi pengalaman dengan siswanya.
8. Berwibawa. Meskipun pembelajaran harus
berlangsung dalam suasana yang akrab dan santai, seorang fasilitator sebainya
tetap dapat menunjukan kesungguhan, sehingga siswa akan tetap menghargainya.
9. Tidak memihak dan mengkritik. Di tengah
kelompok siswa sering kali terjadi pertentangan pendapat. Dalam hal ini, di
upayakan guru bersikap netral dan berusaha memfasilitasi komunikasi diantara
pihak-pihak yang berbeda pendapat, untuk mencari kesepakatan dan jalan
keluarnya.
10. Bersikap terbuka. Biasanya siswa akan lebih terbuka apabila telah
tumbuh kepercayaan kepada guru yang bersangkutan.
11. Bersikap positif. Guru mengajak siswa untuk memahami keadaan dirinya
dengan meonjolkan potensi-potensi yang ada bukan sebaliknya mengeluhkan
keburukan-keburukanya. Perlu di ingat, potensi terbesar siswa adalah kemauan
dirinya sendiri untuk mengubah keadaan.[2]
E. Guru Sebagai Fasilitator
Fasilitator adalah istilah Inggris yang telah di Indonesia
kan. Fasilitator bermakna bahwa guru juga harus berfungsi sebagai pemberi
fasilitas atau melakukan fasilitasi. Guru menjadi jembatan yang baik di depan
para siswanya. Dalam fungsinya ini guru lebih banyak melakukan sharing belajar,
atau bisa disebut belajar bersama. Ketika guru menyampaikan kompetensi dasar
sebuah mata pelajaran ia tidak akan mengeksplorasi pelajaran itu ia hanya
memancing pengetahuan yang ia yakin telah diketahui oleh para siswanya. Kumpulan- kumpulan pengetahuan itu
ketika dicakupkan akan menjadi sistematika pengetahuan yang luar biasa.
Dalam hal ini murid tidak dipandang sebagai semata objek pembelajaran tetapi ia
adalah subjek pembelajaran itu sendiri dan bahkan guru harus siap terbuka untuk
mengalami pembelajaran bersama.
Guru sebagai Fasilitator yang selalu siap memberikan kemudahan, dan melayani
peserta didik sesuai minat kemampuan dan bakatnya. Guru Sebagai Fasilitator
hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang memungkinkan kemudahan kegitan
belajar anak didik, menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan.
Sebagai fasilitator guru hendaknya mampu mengusahakan sumber belajar yang
berguna serta dapat menunjang pencapaian tujuan dan proses belajar-mengajar,
baik yang berupa narasumber, buku teks, majalah ataupun surat kabar.[3]
Menurut E.Mulyasa ada tujuh sikap yang harus dimiliki guru, seperti yang
diidentifikasi Rogers (dalam Knowles, 1984) berikut.
- Tidak berlebih mempertahankan pendapat dan keyakinannya atau kurang terbuka.
- Dapat lebih mendengarkan peserta didik, terutama tentang aspirasi dan perasaannya.
- Mau dan mampu menerima ide peserta didik yang inovatif dan kreatif, bahkan yang sulit sekalipun.
- Lebih meningkatkan perhatiannya terhadap hubungan dengan peserta didik seperti halnya terhadap bahan pelajaran.
- Dapat menerima komentar balik (feedback), baik yang bersifat positif maupun negatif.
- Toleran terhadap kesalahan yang diperbuat peserta didik selama proses pembelajaran.
- Menghargai prestasi peserta didik, meskipun biasanya mereka sudah tahu prestasi yang dicapainya.
0 Response to "Guru professional sebagai komunikator dan fasilitator"
Post a Comment